Senin, 04 Desember 2017

(IN-)TOLERANSI

oleh Mudjahirin Thohir
(Penasehat PSK, Pelataran Sastra Kaliwungu)

SUATU sore, hujan gerimis, lampu bangjo di perempatan jalan raya itu padam. Tak lama kemudian terjadi kemacetan. Mengapa? Faktor utama, setiap pengendara dari berbagai arah saling mendahului.
Apa yang terjadi? Dari arus berlawanan mobil-mobil pun berhenti berhadapan. Makin lama, kemacetan kian tak terurai. Bahkan ada yang bersenggolan. Mobil angkota versus sedan. Sopir kedua mobil itu keluar, saling menyalahkan sekaligus sama-sama mengaku benar. Mereka tidak saling mengaku salah, untuk memungkinkan saling meminta maaf.
Mengapa bisa macet dan senggolan? Sesungguhnya itu terjadi karena setiap pengendara menginginkan kemudahan dan kenyamanan. Namun cara mereka berfokus pada diri, “aku”. Aku yang berlawanan dengan kamu atau dia.
Dalam jumlah yang makin banyak itu, aku menjadi kami, kamu menjadi kalian, dan dia menjadi mereka. Setiap kelompok merasa benar, kuat, dan adidaya. Itulah amsal dalam ungkapan Jawa sebagai eja wantah sikap adigang, adigung, adiguna.
Jika daya tahan terhadap kemacetan melemah, para pengendara yang adigang, adigung, dan aguna, akan mengekspresikan diri dalam rasa jengkel dan marah, antara lain dengan membunyikan klakson keras-keras. Bunyi klakson itu, sepenuhnya tidak memadu dalam birama indah, melainkan kesombongan, keangkuhan, dan keputusasaan.
Masih untung jika kemudian datang polisi lalu lintas yang punya kekuatan dan kekuasaan memaksa pengendara untuk mengurai kemacetan. Sayang, para aktor pengendara tidak beranjak dari keangkuhan.
Masih tetap adigang, adigung, dan adiguna. Tak beranjak dari kami, kalian, dan mereka. Belum menjadi kita. Karena itu, kita bisa meramalkan kondisinya. Dalam bahasa kaum akademisi, bisa dihipotesiskan, “jika lampu bangjo padam, terutama waktu sibuk, pasti terjadi kemacetan, kesemrawutan, bahkan senggolan atau tabrakan.

***
google.com
KASUS kedua terjadi pagi hari, saat para karyawan berangkat bekerja berkendara roda dua lewat jalan raya. Suguhan apa yang kita lihat secara kasat mata? Sepertinya, sepanjang jalan raya sepenuhnya menjadi kekuasaan mereka. Kami dan kalian, sepertinya harus takluk pada ulah mereka. Ketika kami dan kalian berusaha mengerti keadaan itu, kata yang kami dan kalian ucapkan: sing waras ngalah.
Rupanya, pemandangan seperti itu tidak berhenti sampai di sini. Ketika masuk pukul 08.00, ditimpali keadaan yang lebih mengerikan. Truk-truk trailer berbodi panjang menjadi raja jalan raya. Berpuluh-puluh truk berjajar dan berebut jalan kanan-kiri. Mereka memaksa kami dan kalian berada di belakang, tanpa boleh mendahului. Harus berlambat-lambat sehingga sampai kantor pun terlambat karena terhambat.
Mengapa demikian? Sebab, mereka tidak mau berbagi kesempatan pada kami dan kalian. Itulah wujud ekspresi intoleransi. Dalam intoleransi tidak ada kata “kita”, yang ada “kami”, “kalian”, dan “mereka”.

***
RUANG publik bernama jalan raya, sebagaimana ilustrasi kasus itu, adalah metafora bagi Indonesia. Setidaknya kasus-kasus itu terjadi di Indonesia. Berbagai kendaraan itulah metafora agama, sedangkan para pengendara adalah metafora bagi penganut agama. Umat yang hidup di bilik-bilik komunitas keagamaan bernama aliran-aliran keagamaan.
Itu berarti das sein Indonesia, sebagai tata ruang besar, dihuni oleh warga bangsa yang masih memilih mengidentifikasi diri sebagai kami, kalian, atau mereka.
Kalau fenomenanya begitu, ketika “agama” sebagai kendaraan, cara umat memanfaatkan dan mengendarai ya mirip ketika berada di persimpangan jalan saat lampu bangjo padam. Saat berhimpitan atau gesekan hanya ada satu ungkapan: kami yang benar.
Truth claim dalam bahasa teoritisnya. Truth claim sepihak itu cenderung menafikan kebenaran beragam. Mirip rombongan pengendara kendaraan roda dua atau truk trailer yang ingin sepenuhnya menguasai jalan raya. Itulah wajah keangkuhan. Lo, kami, kalian, dan mereka sama-sama mengaku beragama, mengapa angkuh? Bisa karena belum sanggup menjadi kita. (44)

SUARA MERDEKA,
MINGGU, 3 DESEMBER 2017: 6
Gayeng Semarang

Rabu, 22 November 2017

Agama, Mau Dibawa ke Mana?

Oleh Mudjahirin Thohir

MAS Weber, eh maksud saya, Max Weber, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, masuk kampung keluar kampung. Masuk ke daerah-daerah, dari desa sampai kota. Mengamati orang-orang yang berperwujudan luar sederhana. Ada orang miskin, tetapi nampak bahagia. Sebaliknya, ada orang kaya, bahkan sangat kaya, begitu bersemangat bekerja sekaligus rajin pergi beribadah ke gereja.
(Mudjahirin Thohir)

Melihat kenyataan itu, timbul rasa ingin tahu. Mempertanyakan apa hubungan antara kerja dan agama. Lantas dia bertanya kepada begitu banyak orang yang ditemui. Di rumah, di tempat kerja, sampai di tempat ibadah.

“Maaf, Anda hebat. Semangat kerja Anda luar biasa. Kaya tetapi juga rajin beribadah ke gereja. Anda penganut ajaran agama apa?”, tanya Max Weber kepada sejumlah orang yang dijadikan informan.
“Saya (kalau banyak, jadi kami), beragama Protestan, bermazhab Calvin. Kami penganut Calvinisme”, jawab mereka mantab, seperti umumnya penampilan orang-orang hebat.
“Omong-omong, apa sih rahasianya, mengapa para penganut ajaran Calvinis, ya macam Anda, bisa sangat kaya. Menjadi kaum kapitalis, tetapi juga masih aktif pergi ke gereja?”
Para informan tidak segera menjawab. Hanya tersenyum, agar Max Weber makin penasaran.
“Maksud saya, apa gereja bikin Anda kaya?”, tanyanya, to the point. Langsung pada sasaran, seperti kebanyakan orang pesisiran.
“Tolong, diperbaiki cara Anda bertanya,”, ganti sang informan yang nampak priyayi, menguji.
“Begini, apakah ada hubungan, maksud saya apakah ada ajaran agama yang mempengaruhi etos atau spirit Anda untuk bekerja keras?”, tanyanya melunak.
“Baiklah, kami jawab, karena Anda mulai menunjukkan ketrampilan bertanya secara benar dan sopan”, sindir informan. “Dalam ajaran Calvinis, meski umat rajin beribadah, tetapi tidak ada jaminan masuk surga”
“Lantas, apa gunanya ke gereja?”, sergap Max Weber.
“Nanti dulu. Kalau Anda mengaku peneliti, jangan suka memotong pembicaraan”, sindir informan lagi.
“Baiklah”, jawab Max Weber menyerah.
“Rajin ibadah ke gereja tidak otomatis bukti sebagai umat terpilih untuk masuk surga kelak.”
“Lalu?”
“Satu-satunya cara bagi dia sebagai umat terpilih penghuni surga adalah jika sudah menunjukkan diri bekerja keras. Bekerja keras itulah panggilan suci keagamaan”.
“Ooh, bekerja keras sebagai bukti umat terpilih. Efek dari kerja keras itulah keberhasilan hidup di dunia dan di akhirat”, begitulah kira-kira Max Weber menyimpulkan.

***
DARI hasil penelitian Max Weber itu, saya terinspirasi bertanya, “Mau dibawa ke mana umat dengan agamanya?” 
Jawabannya ternyata beragam. Arahnya sangat tergantung pada juru dakwah. Di kalangan kaum santri, misalnya, mereka dikenalkan pada doa Sapu Jagad. Begini, rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. Secara sederhana artinya memohon kepada Allah agar hidup di dunia dan di akhirat dalam kondisi baik. Last but not least, dijauhkan dari azab neraka.
Namun doa itu tidak dikaitkan langsung dengan kewajiban bekerja keras. Bahkan orang yang bekerja keras sering disikapi secara nyinyir. Mereka dinilai dengan kalimat, “Seperti tidak akan mati saja, menghabiskan hidup untuk kerja, sejak pagi, siang sampai malam. Lantas kapan beribadah?
Nah dari ungkapan seperti itu, mulai terkuak misterinya. Membedakan makna kata “bekerja” dan “beribadah”. Padahal mereka mengaku orang saleh. Akibat yang muncul adalah pandangan bipolar. Kerja bercorak duniawi, sedangkan ibadah bernuansa ukhrowi. Kerja bisa menyimpang dari ajaran agama, sedangkan ibadah sudah jelas berpahala.
Efek apa yang kemudian terjadi? Kerja lantas dimaknai secukupnya. Sementara ibadah ritual dilebih-lebihkan. Bahkan kegiatan ritual keagamaan sering dibaca sebagai jaminan kedatangnya rezeki.
Jika “rezeki’ itu ternyata belum datang-datang, lalu jatuh miskin, kemiskinan dibaca secara deterministik ke dalam bahasa nerima ing pandum. 
Mengapa menerima begitu saja? Jawabannya, “Kalau sudah rezekinya, tidak akan lari ke mana”.
Ternyata rezeki itu lari ke tetangga yang rajin bekerja. Bekerja berdasarkan ilmu yang ditekuni. Dan, ternyata, tetangga yang rajin bekerja menjadi kaya raya, ibadahnya tidak kurang juga.
Waktu saya tanyakan apa rahasianya? Jawabannya, “Kerja itu ibadah”.
Karena world view-nya begitu, dua keuntungan dia peroleh. Pertama, termotivasi bekerja keras. Kedua, dalam bekerja, dia menjaga diri dari perbuatan yang dilarang ajaran agama. Bahkan seperti setengah menguliahi saya, orang itu memaparkan tentang empat sifat Nabi: tablig, sidiq, amanah, dan fatonah. 

Saya renungkan ulang, kerja sebagai ibadah. Bukan kerja sendiri dan ibadah sendiri, melainkan kerja karena termotivasi dan dilandasi ajaran agama. Itulah ibadah.

 ---
Sumber:
SUARA MERDEKA, MINGGU, 5 NOVEMBER 2017: 6
Gayeng Semarang

https://web.facebook.com/romomudja/posts/889536521211198

Kamis, 26 Oktober 2017

Hari Santri Nasional

Santri
(sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1972939792984385&set=pcb.1972939862984378&type=3&theater)

Oleh : Mudjahirin Thohir
TANGGAL 22 Oktober, ditetapkan Presiden sebagai Hari Santri. Alasan yang mendasari antara lain 72 tahun lalu, 22 Oktober 1945, para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia, berikrar mewajibkan setiap muslim membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari serangan penjajah. Ikrar itu menandai cinta tanah air adalah bagian dari iman. ‘hubbul wathon minal iman”.

Siapa para santri itu?
Santri dalam arti khusus adalah pelajar pesantren, sedangkan dalam arti umum orang Islam yang taat beribadah. Dalam terminologi sosial, mereka disebut kaum santri atau kaum sarungan.
Kenapa memilih sarung, bukan celana? Dalam perspektif sejarah politik, itu untuk membedakan dari selera penjajah yang bercelana. Padahal, barang siapa menyerupai penjajah, bisa masuk golongan mereka. Tentu pandangan tersebut, hanya berlaku saat itu. Pesan yang hendak ditimbulkan adalah benci dan usirlah penjajah.

Konsekuensi dari kata “mengusir” ialah melawan dengan berperang. Untuk memenangi peperangan, perlu kekuatan melebihi lawan. Dalam konstruksi kognitif santri, kekuatan itu agama. Agama lantas diwujudkan dalam cara pandang, yaitu perang adalah kewajiban setiap muslim, dan pihak yang dilawan, penjajah, dikategorikan sebagai kelompok kafir.
Ketika cara pandang itu terinternalisasi secara kuat, adagium yang terjiwai setiap ‘mujahid” adalah isy kariman au mut syahidan. Hiduplah dalam kemuliaan atau jika gugur di medan perang, maka mati syahid. Hidup mulia itu merujuk ke kemerdekaan. Karena itu, merebut kemerdekaan adalah kewajiban agama. Kemerdekaan untuk satuan wilayah politik yang disebut Indonesia. Dari sudut itu pula para santri menyepakati jargon yang kini berkumandang lagi: NKRI harga mati.

Lain perspektif sejarah politik, lain pula perspektif sosial-budaya. Dari sisi ini, sarung dan bersarung dianggap lebih pragmatis dalam kehidupan kesaharian. Dari bersesuci (wudu), sholat, tidur atau saat ‘berhajat’ pada istri, sangat mudah melepaskan sarung. Pakaian apalagi yang lebih simpel dan supel daripada sarung?
Jika berkait dengan soal berhajat pada istri, jangan bertanya, makhluk apa di balik sarung. Jawabannya bisa mengarah ke “Mas Parno”. Dengan kata lain, sudah tahu, nanya.

***
KINI, jauh lebih penting diketahui, mengapa kaum santri begitu cinta pada Indonesia? Padahal, secara umum, mereka tak punya posisi atau pegawai negeri. Mereka umumnya tidak hidup karena digaji oleh pemerintah.

Nah, soal rezeki, para ulama dahulu tidak mengijinkan anak mereka bekerja sebagai pegawai negeri. Jangankan soal pilihan pekerjaan, untuk bersekolah umum saja, para orangtua tak merekomendasi. Anak-anak mereka suruh mondok, mencari ilmu alias ngaji ke pesantren. Atau setidaknya sekolah di madrasah. Kata “sekolah” identik mencari ilmu, tetapi jenis ilmu yang dicari ilmu agama. Karena itu, sekolah madrasah disebut sekolah agama yang dilawankan dengan sekolah umum.

Sekolah umum berupa SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Sekolah umum memberi peluang pada alumni menjadi pegawai negeri.
Jika jadi pegawai negeri, di mata ulama waktu itu, sumber rezekinya berkategori mutasyabihat alias tidak jelas halal haramnya. Abu-abu. Mengapa? Karena gaji dari negara antara lain berasal dari riba bank, pajak dunia hiburan berkategori kemaksiatan, bahkan pajak lokalisasi pelacuran. Padahal, siapa biasa masuk wilayah abu-abu, cenderung mengarah ke warna hitam alias haram, dan menjauh dari warna putih alias halal.

Ulama dahulu hanya mengizinkan anak mereka mencari rezeki dari bertani dan wiraswasta. Karena hanya dari sanalah kehalalan rezeki itu jelas sekaligus utama karena berasal dari keringat sendiri. Inilah landasan moral yang diidealisasi dunia pesantren. Rezeki harus bersumber dari sumber halal dan diperoleh juga secara halal.

Karena prinsipnya begitu, sementara pemerintah termasuk pejabat dan para pegawai berbeda paradigma, siapa bisa mengontrol dan memperbaiki jika para santri hanya di luar? Lalu bagaimana para santri bisa mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar berkait dengan hubbul wathon minal iman?

Dari sinilah anak kiai yang cenderung banyak dibagi. Ada yang tetap ke pondok pesantren untuk dicadangkan kelak menggantikan sebagai pengasuh pesantren. Sebagian lain perlu sekolah ganda, sekolah umum sekaligus sekolah madrasah. Sekolah madrasah untuk bekal moral agama, sekolah umum untuk kesiapan keahlian khusus. Misalnya, anak perempuan didorong sekolah kebidanan atau kedokteran agar ahli menangani penyakit khusus perempuan.

Nalar itulah yang berkembang sampai sekarang. Karena itu, siapa yang disebut santri dan Hari Santri untuk siapa? Santri bukan hanya yang pernah atau sedang mondok di pesantren, melainkan juga yang rajin ibadah, menjunjung moralitas keagamaan dalam menjalankan kegiatan berbagai lapangan kehidupan.

Pesan apa yang ingin disampaikan di balik penetapan Hari Santri? Semoga benar kata Presiden, antara lain, semangat menyatukan dalam keberagaman, semangat menjadi satu untuk Indonesia (44)

***
SUARA MERDEKA, MINGGU, 22 OKTOBER 2017:6
Gayeng Semarang


https://www.facebook.com/romomudja/posts/882881748543342

Rabu, 13 September 2017

Pengantar


Sebagai ungkapan pikiran dan perasaan paling dalam dari seseorang, yang awam sering menyebutnya penyair, maka puisi itu ibarat ‘cahaya’ yang terbit dari ufuk kehendak (karsa) untuk memberikan cercah pencerahan pada kehidupan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan, bila kehadiran dan keberadaan penyair dan  karyanya (puisi) seolah menjadi ‘sang pencerah’, terutama bagi masyarakat pembaca atau apresiatornya. Segala yang diungkapkan oleh penyair melalui pilihan bahasa, frasa, kata-kata, tanda-tanda baca, imaji, dan lainnya merupakan hasil kristalisasi pengalaman dan penghayatannya terhadap kehidupan. Bahwa kemudian puisi yang telah tercipta itu dapat menemukan ‘jalan nasibnya’, maka seringkali perlu ruang dan waktu untuk mensosialisasikan, agar terjadi dialektika komunikatif.
Dalam ranah dunia kemenyairan, wilayah Pantura (barat) Jawa Tengah adalah salah satu gudangnya para penyair. Kota-kota seperti Semarang, Tegal, Kendal, Brebes, Pekalongan, Pemalang, Batang adalah beberapa kota yang telah memberikan kontribusi bagi tumbuh kembangnya dunia kemenyairan dimaksud. Kota-kota tersebut laksana lahan kebun yang subur bagi para kreator puisi.
Melihat kenyataan itu, taklah berlebihan apabila ini kali Taman Budaya Jawa Tengah bekerja sama dengan Komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, berusaha mewadahi ‘hasil kebun’ kemenyairan itu dengan menerbitkan seri dokumentasi sastra edisi antologi puisi Pendhapa #20 bertajukCahaya dari Kebun Kata”.
Ada sekitar 75 buah puisi karya dari 15 penyair yang terhimpun di dalam antologi ini. Tanpa diikat oleh tema, maka puisi-puisi yang tersaji amatlah beragam, demikian pula dengan gaya penulisannya. Setiap penyair memiliki keunikannya sendiri, Jika dianalogikan bahwa puisi-puisi mereka itu seperti cahaya warna-warni, dan buku antologi ini sendiri seperti sebuah ‘kebun cahaya’, yang memancar bagai pelangi.
Tentu saja, kerja dokumentatif yang berupa penerbitan buku antologi ini merupakan rangkaian yang terpisahkan dari kegiatan Panggung Sastra lainnya, yaitu pembacaan dan diskusi karya, yang menjadi program kegiatan Taman Budaya Jawa Tengah. Oleh sebab itu, ucapan terimakasih layak disampaikan kepada Komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal yang memungkinkan peristiwa literasi ini dapat terselenggara. Terimakasih pula disampaikan kepada Bahrul Ulum LK selaku kurator yang telah bekerja secara optimal dengan menginvetarisasi, memilah, dan memilih para penyair dan karyanya, serta kepada Widyanuari Eko Putro yang telah berkenan memberikan ulasan sekaligus sebagai pembicara dalam diskusi karya, pun kepada ke 15 penyair yang terlibat,   
 Akhir kata, kami berharap, semoga kehadiran antologi puisi ini mampu memperkaya khazanah pustaka Sastra Indonesia mutakhir, sekaligus dapat merangsang kerja kreatif puitika bagi penyair yang terlibat, para pembaca, dan siapa pun yang mengapresiasi. Semoga berkenan dan memberi manfaat.

Salam, penyunting

Wijang J. Riyanto



Senin, 29 Mei 2017

ANTOLOGI PUISI "CAHAYA DARI KEBUN KATA"


[1] PUISI AHMAD SAMUEL JOGAWI

IPS

Aku suka dengan mata pelajaran tentang sejarah
Hingga aku sempatkan berangkat jam 06:30
Agar tidak terlambat dalam peristiwa jajahan
Aku suka gurunya, namanya Pak Diponegoro
Beliau bercerita peta Jawa yang diporak-porandakan
Beliau pun menangis saat siswa-siswi tidak memperhatikan
Sedang aku membayang apa yang sudah aku lakukan sampai sekarang?

Pekalongan, 2017


IPA

Aku suka dengan mata pelajaran mengenai unsur alam
Di mana-mana aku dapat bernafas
Di mana-mana aku dapat bermuara
Di mana-mana aku dapat berenergi
Di mana-mana aku dapat berpijak
Tapi orang dewasa sering tidak menyadari kenikmatannya
Mungkin mereka tanggungannya masih banyak?

Pekalongan, 2017


PENJASKES

Aku suka dengan mata pelajaran tentang kesehatan
Setiap gurunya masuk sering disuruh pakai baju olahraga
--senam, kemudian lempar lembing, dan ada yang bermain sepak bola
Tapi sayang sekarang lapangannya dibangun perumahan
Akhirnya pak guru sering memberikan materi dalam kelas
Materinya pun melulu tentang kesehatan jasmani
Hingga aku terpaksa bolos; kenapa tidak ada materi kesehatan rohani?

Pekalongan, 2017


B. INDONESIA

Aku suka dengan mata pelajaran B. Indonesia
Materi yang aku suka tentang cara menulis puisi
Karena guru menyuruhku untuk berimajinasi
Aku pun mengimajinasikan para pahlawan bangkit
“Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan”
Agar generasi muda tidak mudah cengeng
Tapi apakah poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia?

Pekalongan, 2017


AGAMA

Aku suka dengan mata pelajaran agama
karena aku bisa berdekatan dengan Tuhan
aku bisa berdoa minta apa saja yang aku mau
Tapi ketika aku melihat telivisi. Aku diam...
Berpikir kenapa para pemuka agama berkelahi?



Pekalongan, 2017


[2] PUISI AMAR ALFIKAR




Gunung yang Mengapung

Gunung tempat bumi berwudhlu dari segala
tempat manusia menanam hidup dan doa doa
tempat Tuhan menitip cinta dan waskita
pada daun daun yang menari tanpa jeda

kini tenggelam di laut serakah manusia
lalu mengapung sebagai tubuh tubuh yang tengah dicor kakinya;
kehilangan nyawa
seperti Yu Patmi:
mujahid sejati
mengabar duka suatu hari

alam dihabisi
dikepung tangan tangan udik korporasi
pejabat sibuk mengkhianati janji dan rakyatnya sendiri
kebenaran dimanipulasi
hukum pun undur diri

Sudah jutaan langkah yang ditempuh kaki kaki

Tangan tangan pejuang yang lusuh karena debu
mengetuk seribu pintu:
hati para petinggi
yang barangkali terbuka suatu hari

Yu Patmi sudah pamit
tapi langkah doa tak boleh mengelumit

Yu Patmi sudah pergi
api perjuangan tak boleh berhenti

Seperti nabi
terus melawan tirani
meski dihujani
batu kerikil dan benci
kotoran dan caci maki

Pejuang dari gunung yang mengapung itu
sungguh tengah dan selalu Gusti cintai
sungguh tengah dan selalu tabah mencintai bumi
setabah mawar pada duri
setabah getah pada widuri

22 Maret 2017


Rembulan di Wajah Ibu

Adalah ibuku
Perempuan yang tiap sepertiga malam menasbihkan keningnya di selembar tanah
Kepada tuhan ia setia berkisah
Tentang doadoa yang ia punguti dari dedaunan gugur di samping rumah
Tentang layang layang yang kukejar di kala bocah
Tentang lantunan arab pegon yang Bapak lisankan dengan langgam jawa
tiap kali membaca tafsir jalalain di kala subuh masih begitu perawan untuk didedahkan

Sejak dulu
mata air ibu mengalir sepanjang sepertiga-Mu
bahkan sebelum ia sendiri tahu siapa aku:
anak kandungnya yang tumbuh tak sempurna

Entah berapa angka tahun yang kubaca,
sejak aku menjelma angin yang berputarputar di sela jemari ibu
menjelma debu yang mendarat di sendal kecoklatan milik ibu
menjelma semut yang bersembunyi di balik resleting dompet ibu
sekadar mengikuti kemana saja ibu pergi,
lantaran aku tak cukup berani untuk mengenalkan diriku sendiri.

Lalu pada suatu waktu
aku menjelma aku
di hadapan ibu kala itu

Dengan terbatabata, kutuntun kata kata
sebab sejak mula kata kata ku tak pernah sedekat itu pada ibuku

Kata kata bersedia lahir sebagai muara air mengalir
mata ibu menghangat bagai kain kasmir
aku bagai musafir
yang tiba di tepi samudera setelah sekian tahun menjejaki padang sahara tanpa jeda.

Ibu menyambutku sebagai anaknya

“Ibu semakin sayang padamu”
katanya sembari menghitung rahmat-Mu yang berjatuhan di beranda beranda kehidupan

Sejak itu, aku selalu berdiri sebagai pepohonan dini hari
menari nari sebagai angin ketabahan
menggugur daun daun kegelisahan
dan kusaksikan selalu tiap kali rembulan menyamar sebagai kalbu
lalu diam diam menetap dengan taat di wajah ibu

itu
pasti sebab cinta-Mu

Kendal, Mei 2016

  

Rumah yang Beribadah

Di Geylang
masjid Khadijah dihimpit kedai bir dan resto babi anjing
tak ada sweeping

di Little India
Wihara dan Pura bagai saudara kembar berseragam
tak ada yang mengecam

di jalan Onan
masjid orang Ahmadiyah menatap lekat
pada masjid orang Sunni yang demikian dekat
tak ada yang mengumbar laknat

di jalan Towner
kuil agama Sikh memahkotai dirinya
serupa kubah masjid di mana saja
di kepala penganutnya
sorban melilit serupa ‘ulama

di beranda masjid Sultan
perempuan perempuan bercelana di atas paha duduk merokok dengan asyiknya
sesekali pelajar berpeci lewat di depan mereka
juga orang orang yang usai menunai sujud di dalamnya
tak melirik benci atau ngedumel murka penuh syak wasangka

Rumah rumah suci kaum agamawan di negeri ini
tiap hari berpuasa dari marah dan benci

rumah rumah itu beribadah saban hari
merekam dosa dosa tanpa mengumbar murka dan ancaman siksa
berdiri teduh di samping rumah rumah suci lainnya
menyaksikan doa doa lain dipanjatkan dengan setia
tanpa merasa perlu untuk berselisih dogma

rumah rumah di negeri kita
juga beribadah saban harinya
menampung segala duka hamba hamba
mendengar segala keresahan kaum jelata
yang tak kunjung merdeka
dari siapa
dan apa saja

Singapura, Februari 2017

  

Sepertiga

I
Menjelang sepertiga keheningan
mata ibuku menjelma dermaga
kulihat ia sibuk merangkai kayu
sebagai perahu:
kendara yang mengantarku
ke samudera tuju tuju

II
Angin dini hari
bertandang ke rumah kami
lewat jendela kamar ibu
dan celah celah pintu

didapatinya ibuku tengah bersimpuh
kakinya yang sepuh lantas lumpuh dihantam doa doa
dan kesucian sepertiga

malaikat turun ke bumi
menjadi saksi
menjadi tembok yang keropos dan juga puisi:
nama nama Gusti yang disebut ribuan kali

gemetar dada malaikat kala itu
ia cemburu
pada tirakat ibu

lalu pulang ia ke langit
membawa perasaan perasaan sengit
kedua sayapnya bau sangit
Tuhan bertanya ada apa
ia diam saja
kakinya dibawa pergi
sunyi
Tuhan bertanya mau ke mana
ia hanya menampakkan punggung semata
lalu lirih melempar sebuah tasbih

Sepertiga berikutnya
gerimis menggamit purnama di teras langit tak bernama
ibuku berdongeng kepada anak anaknya
tentang tasbihnya yang hilang entah ke mana
juga
tentang kesetian doa doa
tentang kemuliaan sepertiga
dan malaikat yang cemburu pada dirinya

Kaliwungu, Agustus 2016



Tubuh yang Menuhan

Tubuh ini cuma liang lahat yang kelak dilipat pahat
tiap malam ia tersungkur mendengkur lalu kerap lupa mengucap sukur

Tiap waktu ia menyusur tempat-tempat ibadah
menggemakan kasidah
membenturkan jidat dengan sejadah
mendakwahkan tauhid dan wahdah
mengkampanyekan tangis dan tengadah

tapi kerap gagal menyusuri muara-muara faedah;
anak dari jembarnya samudera kaidah

Tubuh mengaku diri sebagai hamba sahaya
tapi yang tampak selalu ‘saya’
sedang yang lain pendosa semata
Tuhan lantas dijelma bagai biaya
tak menyisakan apa apa
kecuali hitungan pahala dan dosa

Tubuh telah membangun istana kejumudan yang maha megah
ia mengira Tuhan ialah mahkota yang dipajangnya di atas kepala
dipertontonkan dengan jumawa serupa aksesori derajat sosial manusia

makin kencang ia meneriakkan Tuhan
makin ia semulia panembahan
segala titahnya adalah kebenaran
kebencian dan cacimaki nya adalah kesucian

Di daki hidup yang sungguh fana ini
Tubuh yang berkali kali
mengobarkan benci
atas nama Tuhan Yang Suci
dianggap lebih mulia
dari Tuhan itu sendiri


Kendal, 20 Maret 2017




[3] Puisi-puisi Bahrul Ulum LK

SURGA JAHANAM
 
bagiku surga adalah jahanam yang terdalam dalam perut di mana nabi-nabi menyitir ayat tentang tuhan-tuhan yang kelelahan menyusun tangga langit dengan api pemanah burung gagak hingga rintik hujan pada malam hari bergemuruh mengelilingi batu hitam yang bukan hajaraswad

ketika nabi bukanlah kiblat semut dan doa
maka badai lautan siap menelan mentah-mentah yang ada di bumi tanpa sisa tulang. kuucap seribu mantra menyayikan nenekmoyang yang menyebut diri adam yang kehausan di padang arofah menitik airmata yang menjelma zam-zam yang tak terasa lagi sebagai air kehidupan

pada diri aku bertapa sepi selaksa bidadari yang berkali-kali kucuri selendang sutra di telaga ketika tarub tak bertanya ini milik siapa
kembali ke surga tak ada apa dan sesiapa. hanya fana yang diimingkan bagi pengharap keabadian fatamorgana. delima-delima telah dipetik hawa yang bernafsu dan bercinta dengan iblis yang membaptis diri ahli pertapa agung. dan memang benar adanya surga hanyalah rumah kosong yang menjebak dalam silau cahaya. dan kau bermantra surga

langitkendal, 29012013 | 21.47




RUMAH TANAH

rumahku batu kali airnya mengalir menembus malam
bersenyawa dengan doa yang paling subuh di dedaun
tak ada jendela pun pintu sebagai lantaran tempat
mengaji tangan dan kaki untuk mampu berkata
tentang saksi-saksi yang tak tersedia di pelataran toko

rumahku tanah berdinding tanah berlantai tanah beratap tanah
aku tanah basah dari gurun yang paling tandus di matamu
kaktus yang mampu bertahan di tengah badai pasir mewujud angin
di matamu aku terkunci pada ruang sakral
bertapa pada tujuh arah mata angin

rumahku sunyi sesunyi deras air kali

langitkendal, 13032014 | 21.00

  


ISYARAT SUNYI

dengan bahasa apa lagi aku harus mengisyaratkan rindu
pada jejak setapak jalan yang kita lalui
lereng dan jurang yang tak mampu terukur oleh kenyataan
atau setangkai edelweis di pot kamar tidurmu

bukankah sejak kali pertama berpisah
kita sering bertukar mimpi
menenun harapan yang mencemaskan lantaran doa
yang sering tersangkut lantaran tanpa alamat

sesekali jenguklah kesepianku yang menanggung
beban air mata yang hanya mengantung di kelopak
mawar basah oleh isyarat kerling dedaun yang melambai
meninggalkan kenangan dan harapan

langitkendal, 04042016 | 01.22



PAGI DI JENDELA KAMAR IBU

ibu, subuh ini anakmu pulang tanpa genggaman di tangan
membuka tirai kamarmu sunyi tak ada engkau entah di mana

ibu, ke surau rupanya sejak tarhim menggema
lewat jendela engkau keluar kata angin dan barangkali engaku sengajak meninggalkan jejak di antara reranting pohon jambu kenanganku

ibu, biarkan ku buka jendela kamarmu
agar kurasa juga sejuk ruangmu wangi tanpa melati dan mawar
merah putih yang bersinar

ibu, di dinding kamarmu masih juga kau pasang
bingkai photo aku kecil bertahun lalu
kau gendong penuh senyuman dan aku menangis mengajak keluar

ibu, kini hanya angin di sekelilingku
berhenti tak bernadi di kamarmu
mengisyaratkan rahasia-rahasia tanpa rencana kapan waktunya, pagi

langitkendal, 22062016 | 06.30




MALAM, LAMPU TELAH DIPADAMKAN

malam, lampu-lampu telah dipadamkan
ketika purnama belum sampai ajal
dan kelelawar mengitari ruang angkasa
bercericit saling menyapa

angin sepi menggigil
mengeja nama-nama tanpa doa
antara rimbun dedaun jambu
hilang ketika pagi tiba

di mana kamu warna
sejak adzan berkumandang suara hilang
antara jejak purnama bulan batu
dan kau masih juga pura-pura

malam, lampu-lampu telah dipadamkan
mari tidur sayang
sebelum gagak memburu mayat
menatap curiga

langitkendal, 08032017 | 22.40