Minggu, 06 Mei 2018

HALTE

(KH. Ahmad Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus)


HALTE

kau tahu sayang
setelah sekian lama
seperti baru kemarin
sejak kuantar kau
melewati halte ini lalu kita dalam dokar yang sempit
duduk berhadapan
kaki-kaki kita berhimpit
dan kedua telapaktanganmu
menyerah dalam genggaman
kedua telapaktanganku
(“tanganmu dingin” bersamaan kita berguman
membuat kita tertawa kemudian)
kedua mata kita saling berpelukan
seperti menyesali keniscayaan
perpisahan
kulihat halte itu lagi
kini terlantar dilupakan
sekedar persinggahan pun bukan
Kau tahu, sayang
aku seperti melihat
hatiku sendiri
kini.

2000


(diambil dari Sajak-sajak Cinta A. Mustofa Bisri “Gandrung” halaman 29 | penerbit MataAir Publising Surabaya,
Oktober 2005 | diketik kembali oleh Bahrul Ulum A. Malik)

Sabtu, 24 Februari 2018

TENTANG PUISI ESAI

Tentang Puisi Esai

Oleh : Eko Tunas

Puisi Esai bukan sekadar puisi panjang -- apalagi pakai catatan kaki segala. Mana ada karya sastra -- apalagi sajak -- pakai catatan kaki. Sajak adalah karya fiksi dengan dasar estetika (filsafat keindahan). Mudahnya: puisi adalah seni bahasa.

Esai pun sangat menggelikan kalau diberi catatan kaki. Bahkan Goenawan Mohamad menyebut esainya sebagai Catatan Pinggir. Mana mungkin catatan (pinggir) diberi catatan (kaki). Esai adalah bentuk tulisan dengan ungkapan praktis-'estetik' untuk memberi pemahaman baru (kontemporer) mengenai satu hal.

Dalam mediamasa bentuk tulisan esai diberi penamaan lain: catatan pinggir, kolom, opini. Tapi adakalanya opini yang sebenarnya bentuk kembar dari esai lebih berupa makalah atau skripsi mahasiswa dengan banyak catatan kaki. Tanpa merujuk pada pemahaman bahwa, opini lebih tepat disebut: karangan khas.


Gambar ET

Lanjut, sajak, cerpen, noveau-roman (novel) sebenarnya cara sastrawan menulis esai. Contoh: novel penerima hadiah Nobel "The Old Man and The Sea" adalah esai Ernest Hemingway tentang Cuba dalam kepemimpinan Fidel Castro. "Bumi Manusia" adalah cara Pramoedya Ananta Toer untuk menghadapkan -- secara essayus -- tokoh Nyai Ontosoroh dengan ketokohan Kartini.

Dalam menulis "Bumi Manusia" Toer melakukan riset tokoh mula jurnalis Indonesia Tirto Adisoerjo. Menyusul terbitnya novel Toer, hasil risetnya itu juga diterbitkan. Hasil riset berjudul "Sang Pemula" itulah catatan kaki tetra novel Toer. Untuk apa, supaya publik pembaca tahu inilah catatan kaki Toer atas esai novelnya.

Kata kuncinya: dalam penulisan karya sastra butuh riset (sebagai foot note). Disamping tentu pengalaman alam dan intelektual (sebagai acuan kreatifitas / creativ-thinking). Satu karya puisi pendek sekali pun butuh pengalaman diri dan kepustakaan di baliknya. Betapa pun dunia sastra (modern) di sini mesti berdasar pada kreativitas dunia manusia modern.

Sebagaimana risalah Ignas Kleden: kreativitas dunia manusia modern adalah integralisasi kreativitas konseptual (yang berpuncak pada ilmu+seni+filsafat) dan kreativitas sosial (berpuncak pada politik).

Pergulatan batin dan intelektual inilah yang dicapai Simon Ht dalam puisi eseinya pada 1983. Kemudian Rendra dalam puisi pamletnya -- "Potret Pembangunan dalam Puisi". Juga Emha Ainun Nadjib dalam puisi sosialnya -- "Nyanyian Gelandangan", Rajawali Pers.

Mereka bukan sekadar menulis puisi panjang, apalagi sekadar mengulang form/content lama, mitos, atau pemikiran mainstream. Dengan pergulatan kreativitasnya mereka menulis esai dengan cara mereka sebagai penyair. Merekalah sang pemula dalam penulisan puisi esai.

Kreativitas mereka bahkan telah sampai pada pemikiran struktural bahkan post-struktural -- sebagaimana yang dituntut dalam satu esai. Sekali lagi bukan karena panjang dan ada catatan kakinya. Tapi nikmatilah tubuh/form puisi mereka dan kreativitas/content esai mereka yang cerlang.

Anda menulis tentang Rama-Sinta misalnya, meski 100 halaman tapi hanya pengulangan kisah pewayangan sesuai babon itu bukan puisi esai. Beda saat Emha menulis mitos Nyai Loro Kidul dan menjadikannya etos, itulah puisi esai.

Bagaimana menurut Emha, Nyai Loro Kidul adalah mitos buatan kraton. Sebab pada saat itu rakyat berpaling dari kraton ke para wali. Sehingga kraton perlu menciptakan mitos Nyai Loro Kidul agar rakyat kembali berpaling kepada hegemoni kraton.

Itulah contoh pemikiran essayus, agar kita belajar tentang puisi esai. Lebih penting lagi kesadaran, berapa puluh tahun Simon, Rendra, Emha melakukan pergulatan kreativitas sampai mereka mampu menulis puisi esai.

Saya kira, kita perlu berproses, belajar, sambil tidak lupa: bercermin.

Sebagai penutup perlu saya kutip baid puisi Chairil Anwar:

Ini muka
Penuh luka
Segala menebal
Segala mengental
Selamat tinggal !

Semarang 23 Februari 2018

Kamis, 01 Februari 2018

TEROBOSAN

TEROBOSAN
Oleh Mudjahirin Thohir  

KATA “menerobos” (Jawa: nrobos) dan “terobosan”, meski secara morfologis berasal dari akar kata yang sama, terobos, secara semantis, memiliki makna yang sangat berbeda.
Menerobos dalam konteks tertentu misalnya pada saat ibu-ibu sedang antre beras, menunjuk pada perilaku tidak tahu aturan. Tidak etis.
Jika orang seperti ini orang biasa, bahkan “orang udik”, bisa jadi karena “kurang makan sekolahan”. Menghadapi kelakuan seperti itu, orang-orang yang tekun antre yang dirugikan lantas mengolok-ngolok lewat ungkapan yang tidak mengenakkan pendengaran.
Mental menerobos bisa juga terjadi saat orang harus antre menunggu giliran, misalnya pelayanan membayar pajak kendaraan. Ada saja orang yang tiba-tiba datang, minta didahulukan. Boleh jadi orang itu mengaku utusan pejabat tinggi. Orang itu, dalam ungkapan Jawa, berkategori nggolek menange dewe. Mereka berperilaku begitu bisa karena merasa bukan orang biasa, alias “orang terhormat”, tetapi bertindak tidak terhormat.
Dianggap tidak terhormat karena orang lain yang setia antre, melihat kelakuan orang yang menerobos itu menjadi sebel, jengkel, bahkan marah. Dalam ungkapan Jawa, orang sok penting ini beranggapan sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Itu berbeda dari orang yang membuat terobosan. Di dunia gagasan, siapa mampu membuat terobosan dikenal sebagai orang kreatif. Orang kreatif adalah orang berkemampuan menemukan celah di balik peraturan, atau kebiasaan yang menghambat, membelenggu, dan lain-lain.
Orang kreatif melihat masalah sebagai berkah, dan hambatan sebagai peluang. Intinya, mereka bisa keluar dari kebuntuan dengan mencari alternatif, sehingga menemukan inovasi atau kebaruan. Wirausaha yang berhasil biasanya berkemampuan melakukan terobosan seperti itu.
Lain juga dari kaum pegawai atau petani. Umumnya pegawai dan orang kantoran tidak kreatif, lebih memilih bekerja secara regulatif, berjalan sesuai aturan atau petunjuk atasan. Jika karena alasan itu, lalu menghadapi kebuntuan, banyak pegawai cuma bisa mengeluh, “Habis bagaimana lagi, aturannya begitu”. Sikap itu menandakan, umumnya pegawai memilih berada di zona aman. Karena itu, suatu hari, Tri Rismaharini, walikota Surabaya, harus marah lantaran pegawai bawahannya berkerja nglelet, tidak kreatif, tidak berani berfikir out of the box, sehingga merugikan rakyat yang mestinya dilayani secara nyaman.
Mirip pegawai adalah kaum tani. Kaum tani tradisional umumnya lebih memilih berpikir dan bertindak sangat konvensional. Lebih memilih mengulang apa yang dilakukan daripada berinovasi yang hasilnya belum tentu. Beda petani dari pegawai, terletak pada alasan yang mendasari. Jika pegawai takut salah sekaligus takut pada atasan, petani takut atas ketidakpastian.
Karena itu, James Scott, peneliti kaum tani di negara Asia Tenggara seperti Indonesia, menganggap petani umumnya makhluk tidak rasional. Mengapa? Karena tak berani berubah, meski kegiatan pertanian mereka tidak menguntungkan secara ekonomi.
***
ADA empat kategori orang berdasarkan penyikapan mereka terhadap perubahan. Pertama, deterministik. Pasrah terhadap apa yang terjadi. Mereka yakin hidup dan rezeki sudah diatur oleh Tuhan Yang Mahasayang. Mereka mengandaikan diri sebagai wayang, sehinga berposisi seperti apa sepenuhnya ditentukan oleh dalang. Dalang sebagai metafora Tuhan.
Keuntungan kaum deterministik, mereka lebih ‘mampu menerima’ kenyataan sebagai takdir. Itulah kunci bahagia. Petani, kendati miskin, bisa lebih bahagia daripada orang kaya, apalagi yang berurusan dengan KPK.
Kedua, orang yang reaktif terhadap perubahan. Sikap reaktif rupanya menjadi ciri umum masyarakat kita; menanggulangi air bah, saat banjir sudah di depan rumah. Itu mirip tingkah laku sebagian mahasiswa yang mengajukan istilah the power of kepepet. Belajar saat besuk ujian. Jika tidak bisa menjawab soal ujian, mungkin karena berdalil the power of kepepet, mereka menghadapi ujian dengan membuat contekan. Nah, itu bisa dilihat sebagai mental menerobos. Bukan membuat terobosan.
Ketiga, orang yang mengantisipasi perubahan dengan terobosan. Istilahnya, orang yang bersiap payung sebelum hujan.
Keempat, orang yang menjadi agent perubahan. Mereka tidak bermental sebagaimana umumnya pegawai yang lebih memilih zona aman. Bukan kelompok petani yang melihat perubahan sebagai ancaman. Bukan pula mahasiswa yang mengantisipasi perubahan dengan cara mempersiapkan diri memilih jurusan atau fakultas yang memungkinkan mudah mendapat pekerjaan. Mereka, orang yang proaktif terhadap perubahan, karena menjadi figur yang melahirkan perubahan dengan membuat terobosan-terobosan. Orang yang proaktif melahirkan perubahan umumnya punya semboyan hidup yang kuat, seperti from Nothing to something; from zero to hero. Mirip semboyan Chairul Tanjung, si Anak Singkong yang terlanjur masyhur. (44)

SUARA MERDEKA MINGGU 28 JANUARI Halaman 6
Kolom Gayeng Semarang


Jumat, 19 Januari 2018

PUISI-PUISI PSK UNTUK GUS DUR


GUS DUR

Berikut adalah puisi-puisi peserta lomba cipta puisi dalam rangka ulang tahun PSK ke-6 (9 Desember) dan sewindu Gus Dur (2017), yang diselenggarakan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kendal. Terima kasih kepada semua penulis yang telah mengirimkan puisinya, Salam Sastra!

Puisi Agung Pujo Nugroho
Lentera Abadi

Mereka manusia, cahaya, dan tumpukan buku
Mereka gudang, tempat, dan ilmu
Mereka adalah jendela, pintu, dan jalan

Sejenak kuberfikir tentang arti pengabdian
Sejenak kumerenung tentang makna keikhlasan
Betapa mereka adalah malaikat nyata

Berdiri diantara duri kecil melingkar, mereka tidak takut
Menatap lusinan kepala batu, mereka tidak gentar
Duduk diantara senandung bocah bodoh, mereka selalu sabar

Tergelitik untuk bertanya
Apa anda tidak merasa bosan, jenuh, marah, dan benci?
Sedangkan harga anda tak dianggap lebih baik dari sebungkus nasi?
Mereka hanya tersenyum sesekali berkata
“Kami adalah wujud keikhlasan, betapa Tuhan menciptakan kami untuk selalu tersenyum, betapa Tuhan memberi kami ilmu untuk disampaikan”

Sungguh mulia otaku memujinya
Sungguh mereka bak lentara abadi yang tak pernah padam

Kalian adalah malaikat nyata, wahai guru...!!



Puisi Devi Khofifatur Rizqi
Kepada Guruku

Andai saja matahari tiada
dunia akan beku dan bisu
Gelap, senyap, dan hampa
kemudian tiada kehidupan terlaksana

Kepada guruku
Kau bagai puisi
yang memiliki larik indah dalam setiap baitnya
Dengan kata-kata yang sudah di didik oleh jemarimu
Aku tulis diatas lembaran yang terbentang mengenai dirimu
Namun itu semua tak mampu menebus ilmu yang telah kau berikan kepadaku

Kepada guruku,
Tetes keringatmu adalah keikhlasan
dalam menghapus jurang kebodohan anak didikmu
Lelah, susah, dan payah menjadi keseharianmu

Kepada guruku,
Kau menjelma bagai lilin
yang rela membakar dirimu sendiri
untuk menerangi anak didikmu dalam kesuksesan

Kepada guruku
kau bimbing jiwa ragaku
pagi siang dan juga malam dengan sabar kau mengajariku
Aku  bersyukur atas jasamu itu

Kepada guruku
Maafkan anak didikmu yang nakal ini
tak mampu ku bendung air mata ketika mengingat kemuliaanmu

Terima kasih semua guruku

jasamulah kenangan hidupku

Puisi Henny Ningrum
Lentera Angkasaraya

Gelap pekat mendekap erat
Sedang kabut getir memaksa bersanding kekal
Telunjuknya mengutuk zaman kelam tanpa aksara
Tepat sekali, Buta pelita
Bermuara hina, Gemuruh tawa durjana

                Sembari menuang kopi hitam nan pahit meluas
                Begitulah tengkorak hidup tanpa tujuan
Metafora ciut sebatas lari sempoyongan
Titik buntu kesana kemari tak menentu
Teramat terpaku, ironi tatapan kosong berpadu

Be thankfull, musim berlalu pantang mundur
Tibalah silau merona meretak istana langit biru
Semambar sinar harapan merekah agung
Sang pemangku semesta hadiahkan embun penyejuk
Teruntuk angkasaraya, mandiri punya lentera utuh

Sang guru bangsa laksana ruh malaikat menjelma
Selamat datang mengayomi retribusi pendidikan
Zona ini memuja sumber daya manusia bermartabat
Langkahmu tak repot mengarungi samudera
Sepatah petuahmu mewakili perpustakaan yang langka terjamah

Dasi gagah kian mengangkuhkan pejabat bangsa
Melambai hormat kepada filosofi berjasa
Sedari petunjuk ejaan huruf
Kini menjadi metropolitan megahnya gedung
Yang sanggup seketika bersujud ikut berguru

        Kejayaan kemasyhuran kehormatan Negara
        Berterima kasih atas campur tangan dedikasimu
        Semerbak bakti edukasi patriot tak berpamrih
        Penawar kebodohan semenanjung jalan kehidupan

                Helaan nafas bersajak berhitung
Tulang dengan sehelai kulit keriput
Demi amanah Tuhan yang engkau muliakan
                Lentera bangsa akan semakin membara
       
Meski terima kasih dari pidato pemimpin negri,
tak sanggup membuatmu jatuh hati


Puisi Joko Setyo Nugroho
KRONOLOGI

00.01
Semula adalah segelas arak tumpah yang menjelma hantu dan kehidupan—di pasar-pasar, tepi sungai, gunung, dan jalanan—yang mabuk.

06.00
Seluruh ihwal telah muncul dalam keadaan sempoyongan. Lalu tumbuh seporsi musim di kepala pemabuk itu. Musim yang selalu berontak betapapun keras ia mengatur. Musim yang merayap-rayap ke berbagai arah, ke tempat-tempat dan seluruh alamat yang penuh dengan orang-orang sakit. Seperti klinik kesehatan keliling yang—sok—bisa mengobati satu persatu dari berbagai jenis nasib yatim-piatu  yang tak sanggup lagi mengingat asal muasal serta silsilahnya itu.

12.00
Barangkali orang-orang yang mulai menunggu giliran di kursinya masing-masing dengan perasaan yang terlampau jumawa terhadap takdir yang padahal mereka sendiri tidak tahu persis bagaimana disusun adalah cuma igau dari pemabuk itu. Pemabuk yang tak bisa pulang dari pikirannya sendiri. Sampai seorang pelayan memukul lonceng keras-keras untuk memanggil kembali seluruh musim dan alamat-alamat di kepalanya, membersihkan hantu dan kehidupan yang sudah tumpah di mejanya.

18.00
Sampai Sang pemabuk sadar dan menyalahkan apapun yang ada di sekelilingnya bahkan dirinya sendiri. Kepala yang ia kira tempat dari segala masalah telah diremukkannya dengan empasan ke berbagai benda keras, dibakarnya, dihujamnya, dicabik-cabiknya selama berabad-abad sampai seluruh semesta di kepala itu lenyap.

23.59
Kemudian yang tersisa cuma sepi semata, lalu kafe-kafe baru mulai didirikan dan pemabuk-pemabuk lain dilahirkan.

Desember 2017


Puisi Imam Ilman
AKU GURU BANGSAKU

Langit negeri cerah merona biru
Cahaya terbias beriring langkah anak manusia yang gagah dan perkasa
Menepis lapar dan dahaga
Demi membela bangsa tercinta

Boedi Uetomo telah berdiri
Berkontribusi untuk negeri
Pemuda negeri telah berdikari
Menggema ikrar sumpah dihadapan ibu pertiwi

Ketika lentera telah padam
Masa terkubur kian dalam
Masih terasa hembusan nafas semangat dibalik gubuk hitam
Bersama getar perjuangan yang menghujam

Cintai bangsa ini
Musnahkan kemalasan dihati
Ciptakan keadilan dalam diri
Lalu sebarkan adil ini kesetiap insan bangsa ini

Mata yang dulunya tajam
Kini berpaling berbalik kebelakang
Tangan yang dulunya menggenggam
Kini  lepas tak terhiraukan

Inilah saatnya Pemuda Pemudi bangsa ini
Berkarya bekerja dan berkontribusi untuk negeri
Saatnya Pemuda Pemudi bangsa ini
Gelorakan semangat juang kemerdekaan ibu pertiwi

Teriakkan! Aku cinta bangsaku
Gemakan! Bangsa Indonesia

Karena “Aku Guru Bangsaku”


Puisi M. Mustaghfirin
GURU

Guru….
Dikala mentari malu menampakkan sinarnya
Kau datang sepenuh hati
Tuk menyambut kami
Para tunas-tunas bangsamu

Guru….
Tak pernah terpikir oleh kami besarnya pengorbananmu
Mengiris hati mengalir sedih menuai tangis ditelan waktu
Demi kami kau tinggalkan keluargamu
Hanya tuk kami penerus bangsamu

Guru…
Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi 
Maka niscaya kami tak bisa apa-apa
tak bisa kemana-mana

Guru…
Dulu kami hanya bisa bermimpi
Tentang cita-cita kami
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena semua yang kami pelajari

Guru…
Dari hatiku
Untuk semua jasa-jasamu
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Terimakasih guruku


Puisi Mufid Amrullah
SEKARANG MERINDUKAN KEMARIN

Zaman ini banyak cerita padaku tentang kesenjangan
Dimana tak lagi terasa nyaman
Namun ada saja yang rasakan sebagian
Mereka tak salah, Itu semua merumus pada pengetahuan

Sepersen pengetahuan tentang Tuhan yang becus menghakimi
Seratus persen pengetahuan tentang Tuhan yang hanya berdiam diri
Bercampur melebur menjadi satu inisiasi
Tak lain tak bukan hanya dompleng nafsu pribadi

Izinkan aku untuk iri pada bapakku
Bapak yang penuh cibiran semasa itu
Mungkin karena matamu penuh debu
Hingga begitu mudahnya layangkan tuduhan palsu

Bangsa ini bahkan dunia rindukan dirinya adalah fakta
Paling tidak ruh semangat yang nyata, terus membakar pentingnya bersama
Untuk menampar congkaknya khalifah pembabi buta
Ini bukan akhir dari segala, kalau saja keyakinan kita masih sama tentang siapa dia, sang Guru Bangsa

  
Puisi Muh Tommy Fadlurohman
Guru Bangsa Ibu Pertiwi.

Martabat tertinggi adalah pengakuan secara universal.
Tiada satupun sosok pembanding yang pantas berdiri dalam keteguhan.
Derai air mata selalu tertutup didalam jubah kebahagiaan.
Dimana munajat munajat doa untuk negri tanpa henti engkau panjatkan wahai sang guru bangsa.

Andai mereka tahu, andai mereka sadar, andai mereka terbuka mata hatinya, melihat keteguhanmu dalam mengoyak samudra fitnah kebencian dari para pemuja tuhan kepentingan dalam negri ini, tiada pernah engkau balas tiap kekejian yang kau dapati, hanya senyum kepasrahan engkau beri, wahai sang guru bangsa.

Perjalananmu adalah ukiran emas pada bangsa ini, celotehmu adalah isyarat isyarat tentang takdir tuhan yang terkadang belum terjadi, engkau berada pada pusara pengetahuan akan kebijakan yang lahir dari tuhanmu wahai guru bangsa.

Kami tersadar saat engkau sudah tidak bersama kami, ternyata semua yang engkau korbankan hanya untuk melihat tegaknya sang ibu pertiwi, engkau pahlawan kami, tidak pernah dalam hatimu perbedaan, yang ada hanyalah jalinan cinta kasih yang menggambarkan betapa besar cinta kasih tuhan pada kami, engkaulah panutan kami, engkaulah idola kami, selamanya cintamu akan negri akan selalu bersemayam dalam dada kami, wahai guru bangsa cintamu pada ibu pertiwi akan abadi bersama kebesaran ilahi...


Puisi Riniyati
AKU GURU TIGA DIMENSI


Aku guru Muda
Semangat membara mendidik putra bangsa
Dengan langkah mantap ku transfer ilmu
Hujan badai tak menurunkan tugasku
Gaji sedikit namun berkah saat itu
Dengan sepeda ontel tetap ramah
Beban mengajar 40 jam tidak masalah
Aku guru Madya
Tuaian sudah mentes
Banyak siswaku menjadi pemimpin negeri
Dengan langkah pasti
Hidup semakin memberi arti
Pergantian kurikulum membuat penat hati
Beban mengajar 24 jam berat sekali
Karena harus sesuai prestasi dan bidang studi
Aku luangkan untuk mencari tempat baru
Demi menghidupi anak dan suami
Kini kuganti ontelku dengan roda dua
Aku guru Dewasa
Pengalaman melimpah
Tetapi harus tetap professional
Menuntut ilmu demi kesetaraan
Walaupun lelah
Ada harapan hidup lebih meningkat
Berkat adanya tunjangan sertifikasi
Hidup lebih sejahtera
Kini kendaraanku  menjadi roda empat
Guru menjadi jaya
Walaupun usia semakin tua
Aku tetap mendidik putra bangsa
Dan tidak luntur oleh waktu
Aku bangga karena mereka
Telah menjadi pemimpin bangsa



Puisi Romanda Bagus Ardiatma
Guru Pemahat Lentera

Ada yang berkata padaku
        Aku pernah bermimpi melihat rembulan melahirkan guru
        Dan, aku melihat guru melahirkan rembulan-rembulan
Ada yang berkata padaku
        Aku pernah bermimpi melihat matahari melahirkan guru
        Dan, aku melihat guru melahirkan matahari-matahari

Pernah aku menyaksikan sendiri
Ada guru mengais kapas-kapas usang dibawah pohon randu penuh duri
                “Kau mau apakan kapas-kapas using itu?”
                “Akan aku jadikan pelita.”
                “Bodoh, mana mungkin? Tergores api sedikit entah menghilang kemana.”
Ada guru sepanjang waktu hanya menempa kapas-kapas usang
                “Apa kau tidak lelah dengan perkerjaanmu yang bodoh itu?”
                “Tidak.”
                “Sampai kapan kau akan seperti ini?”
Ada guru menyulap kapas-kapas using menjadi lentera-lentera kecil
                “Sekali kapas tetap kapas, tak kan berubah menjadi lentera.”
                “Terserah kau menganggapnya apa.”

Dan, aku mendengar pesan guru kepada lentera-lentera kecil
Nak, sinarilah tempat dimana kau berada
Nak, terangilah jalan gelap itu
Nak, jika cahanyamu padam kembalilah padaku
Agar menjadi lentera untuk semua orang

Salah satu lentera-lentera kecil itu aku


                                                            Kendal, Desember 2017


Puisi Romdonah
IBUKU, GURUKU, GURU BANGSAKU

Ibuku itu seorang guru
guru masa kini di abad 21
yang berdedikasi tinggi

Jelang petang ibu baru pulang
semburat kelelahan  tampak di wajahnya
kuberanikan bertanya
“Mengapa Ibu baru pulang?”
lalu ibu bercerita pekerjaannya yang penuh istilah
daring, luring, in, on, verifikasi, dan istilah lainnya
semua itu tak kupahami

Lalu ibuku bertanya singkat padaku
“Sudah makan dan belajar Nak?”
Jawabanku pun singkat dan padat
“Sudah Ibu”
Satu kalimat yang sangat menyiksaku
Ingin kalimat itu kujadikan beberapa paragraf indah
agar dibaca ibuku dengan senyum kebanggaan
tapi kulihat ibu tidak ada waktu untukku

Saat malam tiba
ibuku mulai membuka laptopnya
kucoba mendekati dan melihat tanpa berani bertanya
setumpuk lembar jawab yang harus dikoreksi
hingga larut malam
ku ingin tidur dibuai belaian ibu
namun terpaksa itu hanya tinggal harapan
ibuku masih tetap bercengkerama dengan setumpuk pekerjaannya

Kurebahkan badanku sendiri tanpa ibu
Kupandangi atap kamarku hingga membawa anganku melayang
aku jadi ingat saat ibuku pernah bilang
“Ibu ini guru zaman sekarang, harus punya kompetensi tinggi
karena ibu telah menerima sertifikasi”

Tak dapat dipungkiri
sertifikasi telah memperbaiki taraf hidup keluarga kami
sehingga banyak profesi lain banyak yang iri
mereka iri karena tidak mengerti
padahal di balik sertifikasi  ternyata banyak konsekuensi yang harus dijalani

Ibuku tidak hanya mengajar
meskipun sudah profesinya telah diakui
namun Ujian Kompetensi Guru harus tetap dijalani
DAPODIK dituntut update agar tertib administrasi
jika E-KTP telah banyak yang memiliki
ibuku juga harus berhadapan dengan E-Rapor penuh aplikasi
yang semuanya menuntut online dan wajib diisi

Haruskah aku menuntut ?
ataukah menerima kenyataan ini?
akhirnya kusadari bahwa ibuku bukan milikku pribadi
karena ibuku juga milik negeri
yang memikul tanggung jawab profesi
pencetak insan cendikia di negeri ini
ibuku itu ibu guruku dan guru bangsaku
aku bangga itu.



Puisi Roro Vika Nur Savitri
Penerang Masa Depan

Engkau cahaya jiwa
Cahaya bangsa dan negara
Dari ku kecil hingga dewasa
Hanya jasa mu yang terasa

Dalam terang dan gelapnya dunia
Hanya nasehat yang menusuk jiwa
Sederhana ucapmu
Namun melekat dalam diriku

Warna kehidupan berjalan seiring waktu
Hingga kau lupa pada diriku
Namun wajahmu tersimpan dalam hatiku
Nasehatmu menegur setiap titik salahku

Tanpa letih menahan amarah
Tanpa henti menutup jalan yang salah
Perlahan tapi pasti, dengan kesabaran
Melihat tingkah Kita yang tidak karuan

balok pun berbisik padamu
Hentikan!!!!  Pukulan itu
Walau dia bersalah tak pantas kau beri pukulan
Karna dirimu penerang masa depan

Terima kasih guruku
Nama indahmu slalu harum dalam hatiku
Setiap langkahku teringat nasehatmu
Karna dirimu cahaya kebanggaanku



Puisi SJ Kiswa Shobirin
SAJAK GURU BESAR

Bingungku merasa canggung
Beriramaku tak berselaras
Mengapa selalu saja ku terkagum
Kau begitu masyur
Karismamu tak terukur
Terukir disetiap helai yang merajut serat
Akankah anganku terintih senyum
Dari kesekian kalinya aku ucapkan
Kau ada
Di lembaran-lembaran buku pelajaran
Kau ada
Di lantunan lagu pahlawan
Kau ada
Dihembusan nafas Nadliyin
Kau ada
Di album tua yang tertindih koran2 lama
Kau ada
Di setiap cita kita
Bingungku merasa canggung
Ada tiadamu sudah jelas
Aku begitu culas, beringas ,memikirknku dengan cemas
Tap aku selalu ingat syiirmu wahai guruku
Baguse sangu mulyo matine
Melekat semua salah erat
sang maha esa
Teruntuk semuanya padamu hidup matiku
problema kan kuatkan daku
Ceritakan tentang nistanya tubuhku
Bingungku sudah jelas
Aku selalu bersama ilmu2mu
Menuntunku dalam kehidupan sedalam-dalamnya
Lamun palastra ing pungkasane


Puisi Tanjung Alim Sucahya
Manusia Berkulit Emas

Manusia berkulit emas
Tetesan  keringat tuan mengering
Bersama pelangi pudar
Tinggal roboh pula pohon itu
Ketika telah lama tak tuan siram

Manusia berkulit emas
Maafkan kami  yang selalu sibuk
Tergoda merasakan kulit tuan
Meniru dengan baju bercemong emas
Maafkan kami kembali
Terlupa memupuk pohon itu
Tak cukup ilmu kami merawat

Manusia berkulit emas
Pergilah sebentar tuan
Tamat pohon berubah rumah
Kami mengingat tuan
Semua itu mudah
Seperti pendahulumu

Semua pun setara sama