Rabu, 22 November 2017

Agama, Mau Dibawa ke Mana?

Oleh Mudjahirin Thohir

MAS Weber, eh maksud saya, Max Weber, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, masuk kampung keluar kampung. Masuk ke daerah-daerah, dari desa sampai kota. Mengamati orang-orang yang berperwujudan luar sederhana. Ada orang miskin, tetapi nampak bahagia. Sebaliknya, ada orang kaya, bahkan sangat kaya, begitu bersemangat bekerja sekaligus rajin pergi beribadah ke gereja.
(Mudjahirin Thohir)

Melihat kenyataan itu, timbul rasa ingin tahu. Mempertanyakan apa hubungan antara kerja dan agama. Lantas dia bertanya kepada begitu banyak orang yang ditemui. Di rumah, di tempat kerja, sampai di tempat ibadah.

“Maaf, Anda hebat. Semangat kerja Anda luar biasa. Kaya tetapi juga rajin beribadah ke gereja. Anda penganut ajaran agama apa?”, tanya Max Weber kepada sejumlah orang yang dijadikan informan.
“Saya (kalau banyak, jadi kami), beragama Protestan, bermazhab Calvin. Kami penganut Calvinisme”, jawab mereka mantab, seperti umumnya penampilan orang-orang hebat.
“Omong-omong, apa sih rahasianya, mengapa para penganut ajaran Calvinis, ya macam Anda, bisa sangat kaya. Menjadi kaum kapitalis, tetapi juga masih aktif pergi ke gereja?”
Para informan tidak segera menjawab. Hanya tersenyum, agar Max Weber makin penasaran.
“Maksud saya, apa gereja bikin Anda kaya?”, tanyanya, to the point. Langsung pada sasaran, seperti kebanyakan orang pesisiran.
“Tolong, diperbaiki cara Anda bertanya,”, ganti sang informan yang nampak priyayi, menguji.
“Begini, apakah ada hubungan, maksud saya apakah ada ajaran agama yang mempengaruhi etos atau spirit Anda untuk bekerja keras?”, tanyanya melunak.
“Baiklah, kami jawab, karena Anda mulai menunjukkan ketrampilan bertanya secara benar dan sopan”, sindir informan. “Dalam ajaran Calvinis, meski umat rajin beribadah, tetapi tidak ada jaminan masuk surga”
“Lantas, apa gunanya ke gereja?”, sergap Max Weber.
“Nanti dulu. Kalau Anda mengaku peneliti, jangan suka memotong pembicaraan”, sindir informan lagi.
“Baiklah”, jawab Max Weber menyerah.
“Rajin ibadah ke gereja tidak otomatis bukti sebagai umat terpilih untuk masuk surga kelak.”
“Lalu?”
“Satu-satunya cara bagi dia sebagai umat terpilih penghuni surga adalah jika sudah menunjukkan diri bekerja keras. Bekerja keras itulah panggilan suci keagamaan”.
“Ooh, bekerja keras sebagai bukti umat terpilih. Efek dari kerja keras itulah keberhasilan hidup di dunia dan di akhirat”, begitulah kira-kira Max Weber menyimpulkan.

***
DARI hasil penelitian Max Weber itu, saya terinspirasi bertanya, “Mau dibawa ke mana umat dengan agamanya?” 
Jawabannya ternyata beragam. Arahnya sangat tergantung pada juru dakwah. Di kalangan kaum santri, misalnya, mereka dikenalkan pada doa Sapu Jagad. Begini, rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. Secara sederhana artinya memohon kepada Allah agar hidup di dunia dan di akhirat dalam kondisi baik. Last but not least, dijauhkan dari azab neraka.
Namun doa itu tidak dikaitkan langsung dengan kewajiban bekerja keras. Bahkan orang yang bekerja keras sering disikapi secara nyinyir. Mereka dinilai dengan kalimat, “Seperti tidak akan mati saja, menghabiskan hidup untuk kerja, sejak pagi, siang sampai malam. Lantas kapan beribadah?
Nah dari ungkapan seperti itu, mulai terkuak misterinya. Membedakan makna kata “bekerja” dan “beribadah”. Padahal mereka mengaku orang saleh. Akibat yang muncul adalah pandangan bipolar. Kerja bercorak duniawi, sedangkan ibadah bernuansa ukhrowi. Kerja bisa menyimpang dari ajaran agama, sedangkan ibadah sudah jelas berpahala.
Efek apa yang kemudian terjadi? Kerja lantas dimaknai secukupnya. Sementara ibadah ritual dilebih-lebihkan. Bahkan kegiatan ritual keagamaan sering dibaca sebagai jaminan kedatangnya rezeki.
Jika “rezeki’ itu ternyata belum datang-datang, lalu jatuh miskin, kemiskinan dibaca secara deterministik ke dalam bahasa nerima ing pandum. 
Mengapa menerima begitu saja? Jawabannya, “Kalau sudah rezekinya, tidak akan lari ke mana”.
Ternyata rezeki itu lari ke tetangga yang rajin bekerja. Bekerja berdasarkan ilmu yang ditekuni. Dan, ternyata, tetangga yang rajin bekerja menjadi kaya raya, ibadahnya tidak kurang juga.
Waktu saya tanyakan apa rahasianya? Jawabannya, “Kerja itu ibadah”.
Karena world view-nya begitu, dua keuntungan dia peroleh. Pertama, termotivasi bekerja keras. Kedua, dalam bekerja, dia menjaga diri dari perbuatan yang dilarang ajaran agama. Bahkan seperti setengah menguliahi saya, orang itu memaparkan tentang empat sifat Nabi: tablig, sidiq, amanah, dan fatonah. 

Saya renungkan ulang, kerja sebagai ibadah. Bukan kerja sendiri dan ibadah sendiri, melainkan kerja karena termotivasi dan dilandasi ajaran agama. Itulah ibadah.

 ---
Sumber:
SUARA MERDEKA, MINGGU, 5 NOVEMBER 2017: 6
Gayeng Semarang

https://web.facebook.com/romomudja/posts/889536521211198

Tidak ada komentar:

Posting Komentar